Karena Cinta, Tidak Pernah Memaksa

September062013

Entah mana yang lebih sakit, melihat ia perlahan menuju cintanya, atau bertahan tanpa status apa - apa.
Ya, aku mengikhlaskanmu bersamanya. Hidup bahagia bersama cinta pertamamu itu. Aku ingat, pada pertemuan itu kamu meminta dukunganku untuk merelakanmu bersamanya. Tentu saja aku mengizinkan. Betapa bodoh jika aku tetap menahanmu disini, sementara hatimu untuknya.

Katamu, perasaan padanya masih tetap sama. Sama seperti 10 tahun silam kalian dipisahkan oleh keadaan. Setelah itu, aku tak ingat lagi apa perkataanmu. Aku terlalu sibuk mendengarkan isakan tangis di dalam hati. Hatiku menangis meraung - raung saat kau menyebut dirinya.
"Aku menyayangimu," katamu saat itu. Aku pun demikian hal nya. Tapi tidak pernah ada satu orang mencintai dua orang sekaligus. Pun hati, tidak bisa diisi oleh dua orang yang sangat ingin menempati.
"Kamu juga sayang dia kan?" aku membalas nya dengan pertanyaan yang membuatmu berhenti bicara.
Selama beberapa menit, kamu terdiam. Matamu menatap nanar jalan yang mulai padat merayap sore itu. Tak lama kemudian, untuk yang ke sekian kalinya, kata - kata itu kembali muncul. "Maafkan aku,"
Aku membalasnya dengan sebuah senyuman. Jujur, aku tak tahu harus berkata apa. Aku sangat ingin bersamamu. Lebih lama lagi. Menjadi satu satunya sandaran ketika kamu lelah. Menjadi seseorang yang kabarnya selalu kamu tunggu tunggu. Ya, aku masih ingin seperti itu. Aku masih ingat betul, kamu pernah memintaku untuk jangan pergi. Tetap mendukungmu, tetap menjadi perempuan yang sabar menghadapimu, menjadi perempuan yang selalu berusaha mengerti. Sampai pada akhirnya, kamu pula yang memintaku untuk pergi. Ketika dia datang. Ketika ia meminta padaku untuk mengembalikanmu kepadanya.

Aku melihatmu dengan wajah penuh bimbang. Satu sisi rasa yang kamu punya padanya tak pernah padam, tetapi kamu pun tidak ingin mengecewakanku. Aku paham betul posisimu. Berada diantara cinta pertama, dan orang asing yang baru saja membuatmu nyaman. Kamu tahu aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Meski semua ini singkat, tetapi aku berusaha untuk mengikhlaskanmu. Pergilah, kejarlah kebahagiaanmu bersamanya. Aku berharap, ia dapat meredam egomu. Memanjakanmu setiap waktu. Memberikan ucapan penyemangat sebelum memulai hari. Mengerti akan sikapmu yang egois dan tidak suka dipaksa. Aku ingin melepasmu dengan bahagia. Memastikanmu tidak salah dalam memilih. Karena aku telah melepaskanmu untuknya, untuk menemukan cinta terakhirmu. Insya allah, rasa cintaku ini tulus, aku ikhlas menyayangimu, dan aku tidak pernah menganggapmu menyakitiku ketika memilihnya. Karena aku meyakini satu hal, cinta tidak memaksa, tidak dapat dipaksa dan bukan keterpaksaan.

Orang Gila, Penduduk Kampung dan Suara Adzan

September032013

Seorang yang dikatakan gila oleh warga, tiba - tiba pergi ke sebuah masjid pada pukul 10 pagi, lalu menyalakan pengeras suara dan melantunkan adzan...
Alloohu Alkbar! Alloooohu Akbar!!! .... sampai akhir.
Penduduk kampung itu semuanya bisa mendengar adzan dengan jelas namun disertai rasa geram, terheran dan bertanya - tanya lalu semuanya bergerak mendatangi masjid untuk memenuhi keingintahuan mereka yang kuat.

Setelah melihat orang gila itu adzan, ketua kampung pun berteriak "Hooooyy, ini jam 10 pagi kok kamu adzan? mau sholat apa?"
Orang gila itu menjawab seenaknya "Tadi saat ada adzan yang benar - benar mengajak untuk shalat subuh, tapi yang hadir cuma ada 5 orang saja, namun begitu saat saya adzan yang benar - benar salah malah hadir semua, heuheu... Adzan saya memang salah tapi benar-benar menarik yaa?"

Pesan : "Kadang kesalahan yang disenggaja bisa menjadi peringatan, tapi untuk memaafkan kesalahan itu membutuhkan sebuah alasan."

Penolakan Redenominasi Rupiah

September022013

Mengapa disebut redenominasi bukan redenominali? Au ah gelap, kek ajang penghargaan aja!
Redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya.
Namun ternyata redenominasi rupiah Rp 1000 diubah menjadi Rp 1, di Indonesia menuai keberatan banyak pihak.
Berikut inilah pihak - pihak yang keberatan tersebut:


1. Bupati Pulau Seribu keberatan kalau menjadi Bupati Pulau Satu.
2. Marga Pasaribu keberatan menjadi Marga Pasatu.
3. Ahli bahasa tidak setuju kalau ungkapan "mengambil langkah seribu" menjadi "mengambil langkah satu", atau "seribu janji" menjadi "satu janji".
4. Sastrawan keberatan kalau sajak Chairil Anwar yang berbunyi "aku ingin hidup seribu tahun lagi" dirubah jadi "aku ingin hidup satu tahun lagi".
5. Para da’i sejuta umat tidak mau diganti menjadi da’i seribu umat.
6. Biolog tidak setuju binatang kaki seribu diganti menjadi binatang kaki satu.
7. Titiek Puspa keberatan kalau lirik lagu "jatuh cinta sejuta rasanya" diganti jadi hanya "seribu rasanya".
8. Para artis tidak setuju acara malam sejuta bintang dikurangi jadi malam seribu bintang.
9. Para jutawan tidak mau disebut ribuwan.
10. Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mau mengganti "nyuwun sewu" jadi "nyuwun setunggal".

Wanitaku dulu, Kartini masa kini.

July312013

"Kamu kesini juga ternyata? Aku kira..."
"Kamu kira apa? Kamu kira aku ingkari apa yang aku janjikan padamu dulu?"
"Iya, aku kira kamu akan mengingkarinya dan melupakan janjimu? Seperti dulu kamu ingkari semuanya padaku!"
"Sempit sekali pikiranmu tentang aku, aku tak seperti yang kamu bayangkan itu!"
"Tapi, semenjak hari itu. Aku berfikir, kamu tega mengkhianati cintaku untuk lelaki lain, pasti kamu juga akan mengabaikanku!"
"Udahlah, itu juga salahmu. Kenapa kamu membiarkan dia mendekatiku. Membiarkannya memberikan kasih sayang lebih dari yang aku rasakan darimu?"
"Ma'af, sebenarnya aku juga tak merelakanmu. Tapi setelah bertemu dengan orang tuamu dan mereka menyuruhku meninggalkanmu, aku terpaksa harus melepaskanmu!"
"Kenapa? Apa yang orang tuaku katakan? Kenapa kamu diam saja dan tak bicara padaku tentang semua itu?"
"Udahlah tak perlu dibahas lagi, semua sudah terlanjur terjadi. Aku menghormati orang tuamu dengan keputusannya itu!"
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, menutupi apa yang dulu orang tuanya katakan. Aku anak pertama, sedang dia anak ketiga. Dan menurut adat jawa, cinta kami tak bisa disatukan dan tak bisa dilanjutkan ke pelaminan. Aku pernah mencoba mendebatnya dengan hukum islam, namun sia - sia, aku kalah. Adat jawa masih dipegang teguh dan begitu kental dalam keluarganya.
"Ngomong - ngomong, anak kecil itu anak kamu?"
"Iya, dia anakku. Mirip sama kamu, kulitnya hitam seperti kamu?"
"Jangan - jangan waktu hamil dulu kamu benci banget sama aku? Hhehehe"
"Bisa aja kamu! Aku jadi ingat katamu dulu. Yang dengan pedenya bilang, biar saja kulitku hitam, seperti malam kalo tak gelap tak akan kelihatan bintangnya!"
"Hhaha..."
Kami tertawa bersama, sebelum rasa haru merubah tawa menjadi pilu.
"Mamah, ini papah yah?"
"Bukan sayang, om ini teman mamah, yang menitipkan salam papah dari surga!"
Aku hanya bisa terdiam. Tak kuat rasanya untuk mengucap kata. Aku masih terkejut, mendengar ceritanya bahwa anak itu ditinggalkan papahnya ketika masih dalam kandungan.
Wanitaku dulu kini telah menjadi seorang ibu. Dia sosok kartini masa kini, tegar mengasuh anak seorang diri.
 
Kembali ke Atas